Jumat, 03 Juni 2011

Kisah Hikmah :Al-Bashri dan Gadis Kecil

Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang
bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan
iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung
berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusust dan terurai, tak
beraturan.

Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut
dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.

Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
"Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini."
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, "Ayahmu juga sebelumnya tak
mengalami peristiwa seperti ini."

Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk
timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian,
gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam
Al-Bashri. "Aku akan ikuti gadis kecil itu."

Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon,
mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir
gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus
kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.

"Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa
pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam
siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang
melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang
memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu
minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi
yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?"

"Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalm,
ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi
malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa
yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin
makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka
macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"

Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya.
Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.

"Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan
engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami
kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah
tercbik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah
masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, ayah?"

"Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan
ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa
mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?"

"Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain
kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?"

"Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur
kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai
tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?"

"Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal
baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal
karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?"

"Jika kupanggil, engkau selelu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan
kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?"

"Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat
nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat
nanti."

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah
ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan
aku dari lelap lalai."

Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang
sembari berderai tangis.

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar